Jumat, 30 Desember 2016

Bertutur Dengan Bahasa Gambar


Demi memiliki kamera digital, Xyza Crus Bucari, mesti berhutang pada majikannya. Lantas, disela-sela memenuhi perintah sang majikan membeli kebutuhan dapur, Xyza menenteng kameranya dan menyusuri penampungan para pembantu rumah tangga (PRT) korban kekerasan —memotret kehidupan mereka yang tak terjamah. Xyza sendiri seorang buruh migran asal Filipina, ia telah bekerja hampir 10 tahun sebagai PRT di Hongkong. Singkat cerita, kehidupan penampungan yang ia bidik dari kamera digitalnya itu, membawa keberuntungan sekaligus kegemilangan yang sebelumnya, mungkin tak pernah ia bayangkan. 2015 silam, Xyza memperoleh beasiswa belajar dari Magnum Foundation yang prestisius.

***
Kisah Xyza, disinggung oleh Taufan Wijaya dalam bukunya, Photo Story Handbook (Gramedia, 2016). Riwayat ringkas itu mengilustrasikan dua hal: Pertama, photo story bisa dikerjakan oleh siapa pun. Kedua, photo story dianggap kian penting karena menjadi syarat bagi banyak pelatihan dan beasiswa dalam bidang fotografi. Itu sebabnya, Taufan merasa perlu membahas lebih dalam tentang photo story (sering diterjemahkan menjadi foto cerita).
Puluhan tahun silam photo story memang lebih banyak ditemukan di koran atau majalah. Tapi kini hasil aktivitas mengerjakan foto cerita bisa dipublikasikan secara virtual lewat layanan jejaring sosial facebook, aplikasi berbagi foto instagram, steller maupun blog. Nyatanya memang, fotografi kian digandrungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan —mulai dari pemain film, musisi, pekerja kantoran sampai ibu rumah tangga. Fotografi telah menjadi bagian simpang siur informasi dalam bentuk budaya terhubung (always online), budaya komentar (comment culture) dan kecenderungan untuk saling berbagai (sharing).
Menengarai kecenderungan tersebut, Taufan Wijaya —fotografer yang telah meluncurkan buku foto pertamanya berjudul Dekat Perempuan (2013) dan buku Foto Jurnalistik (2014), menilai di zaman serba visual ini fotografer punya tantangan tersendiri. Fotografer dituntut tak hanya mahir secara tekhnis dan isi dalam bentuk foto tunggal tapi juga mampu membuat foto cerita. Buku Photo Story Handbook dimaksudkan sebagai referensi bagi siapapun yang ingin, hendak atau tengah mengerjakan photo story baik dalam waktu singkat maupun proyek panjang (long term photo project).
Lantas, seperti apa photo story pernah dikerjakan. Secara historis, Taufan menelusuri riwayat ringkas awal mula photo story dipublikasikan oleh para fotografer di berbagai belahan dunia. Gaya foto cerita pertama kali muncul, pada 1929 di majalah Muncher Illustrierte Presse, yang menampilkan 13 foto politikus Jerman dalam dua halaman berjudul “Politische Potrats”. Di Tanah Air sendiri, photo story dikerjakan jauh sebelum Indonesia menjadi bangsa —Mendur dimungkinkan menjadi fotografer pertama yang mempublikasikan foto cerita “Poewasa” tentang puasa di majalah Actuell Wereldnieuws pada tahun 1933. Sedang bentuk foto cerita modern dikenalkan W Eugene Smith saat masih bekerja untuk LIFE pada 1940-an. Dari Smith inilah, pendekatan bertutur lantas diikuti oleh fotografer lain yang membuat photo story lebih mendalam.
***
Dalam buku ini diuraikan pula formula mengerjakan photo story. Sebagai salah satu genre fotografi, photo story memiliki struktur seperti bentuk tulisan yakni pembuka, isi dan penutup. Bagian pembuka semacam beranda yang memperkenalkan karakter penting di dalam cerita dan memberi informasi di mana cerita berlangsung. Bagian isi, foto-foto harus bercerita tentang isu dan subjek cerita lebih dalam sehingga interaksi, konflik, detail dan emosi mesti ditampilkan untuk membantu pembaca memahami konteks cerita. Sedang penutup adalah bagian yang memberi kesan, serta memberi gagasan bagi pembaca untuk merenungkan kembali dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam cerita.
Merujuk pada majalah LIFE, Taufan pun mengurai formula dasar sembilan elemen yang harus difoto untuk jadi pilihan variasi photo story. Sembilan elemen itu yakni overall (pemotretan dengan cakupan lebar sebagai foto pembuka), medium (foto yang berfokus pada seseorang), detail (satu bagian yang difoto secara dekat), potrait, interaction, signature (momen penentu) seguence (foto kronologi), clincher (situasi akhir). Elemen yang paling perlu digarisbahawahi yakni konteks.
Konteks dijelaskan Taufan adalah hal yang harus selalu diperhatikan. Fotografer yang terlena oleh keasyikan tampilan foto indah semata, biasanya terjebak pada sajian yang tidak sesuai konteks atau tidak relevan. Ia menegaskan, memelihara rangkain foto tetap sesuai konteks akan menghindarkan foto cerita berisi foto-foto pengulangan atau klise.

***
Membuat photo story sejatinya adalah bertutur menggunakan bahasa gambar. Meski buku ini bersifat panduan, namun tak berpretensi menjadi diktat buku ajar yang kaku. Gaya penuturan buku ini santai sehingga tak menyulitkan pembaca untuk mulai mengetahui seluk beluk foto cerita, disertai contoh dan proses kreatif pengerjaan foto cerita oleh para fotografer.
Terkait proses kreatif semisal, Taufan bercerita latar belakang Romi Perbawa mengerjakan photo story tentang pacoa jara di Bima yang lantas dimuat di Time, Sunday Telegraph, De Standaar, Stern dan lainnya. Taufan juga berbagi pengalamannya mengerjakan proyek panjang photo story tentang cerita kanker pada perempuan di Indonesia. Mulai dari riset tentang penyakit itu, menemukan pasien dan penyintas kanker, meyakinkan mereka untuk difoto, sampai mencari sponsor ketika proyek tersebut rampung untuk membiayai cetak foto dan menyelengarakan pameran agar bisa diakses banyak orang.
Kekayaan isi Photo Story Handbook layak dibaca oleh para penggemar fotografi atau para fotografer. Dengan membaca buku ini, wawasan tentang photo story termungkinkan lebih terbuka lebar ―utamanya berkaitan cara mengerjakan proyek photo story. Di lain sisi, buku ini juga buah kegelisahan Taufan Wijaya mengingat belum adanya buku pegangan (handbook) photo story yang ditulis dengan bahasa Indonesia. Taufan telah mengisi kekosongan itu untuk para pecinta fotografi di Indonesia.

2 komentar:

  1. How To Bet at Foxwoods Casino & Hotel | MapYRO
    Foxwoods Casino & Hotel 광명 출장샵 is located in the 원주 출장샵 heart of scenic southeastern Michigan and boasts a casino, 과천 출장마사지 luxury hotel, 충청북도 출장안마 casino, entertainment, 여수 출장샵

    BalasHapus