Demi memiliki
kamera digital, Xyza Crus Bucari, mesti berhutang pada majikannya. Lantas, disela-sela
memenuhi perintah sang majikan membeli kebutuhan dapur, Xyza menenteng
kameranya dan menyusuri penampungan para pembantu rumah tangga (PRT) korban
kekerasan —memotret kehidupan mereka yang tak terjamah. Xyza sendiri seorang
buruh migran asal Filipina, ia telah bekerja hampir 10 tahun sebagai PRT di
Hongkong. Singkat cerita, kehidupan penampungan yang ia bidik dari kamera
digitalnya itu, membawa keberuntungan sekaligus kegemilangan yang sebelumnya, mungkin
tak pernah ia bayangkan. 2015 silam, Xyza memperoleh beasiswa belajar dari
Magnum Foundation yang prestisius.
***
Puluhan tahun
silam photo story memang lebih banyak ditemukan di koran atau majalah. Tapi kini
hasil aktivitas mengerjakan foto cerita bisa dipublikasikan secara virtual
lewat layanan jejaring sosial facebook,
aplikasi berbagi foto instagram, steller maupun blog. Nyatanya memang, fotografi
kian digandrungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan —mulai dari pemain
film, musisi, pekerja kantoran sampai ibu rumah tangga. Fotografi telah menjadi
bagian simpang siur informasi dalam bentuk budaya terhubung (always online), budaya komentar (comment culture) dan kecenderungan untuk
saling berbagai (sharing).
Menengarai
kecenderungan tersebut, Taufan Wijaya —fotografer yang telah meluncurkan buku
foto pertamanya berjudul Dekat Perempuan
(2013) dan buku Foto Jurnalistik
(2014), menilai di zaman serba visual ini fotografer punya tantangan
tersendiri. Fotografer dituntut tak hanya mahir secara tekhnis dan isi dalam
bentuk foto tunggal tapi juga mampu membuat foto cerita. Buku Photo Story Handbook dimaksudkan sebagai
referensi bagi siapapun yang ingin, hendak atau tengah mengerjakan photo story
baik dalam waktu singkat maupun proyek panjang (long term photo project).
Lantas, seperti
apa photo story pernah dikerjakan. Secara historis, Taufan menelusuri riwayat
ringkas awal mula photo story dipublikasikan oleh para fotografer di berbagai
belahan dunia. Gaya foto cerita pertama kali muncul, pada 1929 di majalah Muncher Illustrierte Presse, yang menampilkan
13 foto politikus Jerman dalam dua halaman berjudul “Politische Potrats”. Di
Tanah Air sendiri, photo story dikerjakan jauh sebelum Indonesia menjadi bangsa
—Mendur dimungkinkan menjadi fotografer pertama yang mempublikasikan foto
cerita “Poewasa” tentang puasa di majalah Actuell
Wereldnieuws pada tahun 1933. Sedang bentuk foto cerita modern dikenalkan W
Eugene Smith saat masih bekerja untuk LIFE
pada 1940-an. Dari Smith inilah, pendekatan bertutur lantas diikuti oleh
fotografer lain yang membuat photo story lebih mendalam.
***
Dalam buku ini diuraikan
pula formula mengerjakan photo story. Sebagai salah satu genre fotografi, photo
story memiliki struktur seperti bentuk tulisan yakni pembuka, isi dan penutup.
Bagian pembuka semacam beranda yang memperkenalkan karakter penting di dalam
cerita dan memberi informasi di mana cerita berlangsung. Bagian isi, foto-foto
harus bercerita tentang isu dan subjek cerita lebih dalam sehingga interaksi,
konflik, detail dan emosi mesti ditampilkan untuk membantu pembaca memahami
konteks cerita. Sedang penutup adalah bagian yang memberi kesan, serta memberi
gagasan bagi pembaca untuk merenungkan kembali dan mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan di dalam cerita.
Merujuk pada majalah
LIFE, Taufan pun mengurai formula
dasar sembilan elemen yang harus difoto untuk jadi pilihan variasi photo story.
Sembilan elemen itu yakni overall (pemotretan dengan cakupan lebar sebagai foto
pembuka), medium (foto yang berfokus pada seseorang), detail (satu bagian yang
difoto secara dekat), potrait, interaction, signature (momen penentu) seguence
(foto kronologi), clincher (situasi akhir). Elemen yang paling perlu
digarisbahawahi yakni konteks.
Konteks dijelaskan
Taufan adalah hal yang harus selalu diperhatikan. Fotografer yang terlena oleh
keasyikan tampilan foto indah semata, biasanya terjebak pada sajian yang tidak
sesuai konteks atau tidak relevan. Ia menegaskan, memelihara rangkain foto
tetap sesuai konteks akan menghindarkan foto cerita berisi foto-foto
pengulangan atau klise.
***
Membuat photo
story sejatinya adalah bertutur menggunakan bahasa gambar. Meski buku ini
bersifat panduan, namun tak berpretensi menjadi diktat buku ajar yang kaku. Gaya
penuturan buku ini santai sehingga tak menyulitkan pembaca untuk mulai
mengetahui seluk beluk foto cerita, disertai contoh dan proses kreatif
pengerjaan foto cerita oleh para fotografer.
Terkait proses
kreatif semisal, Taufan bercerita latar belakang Romi Perbawa mengerjakan photo
story tentang pacoa jara di Bima yang
lantas dimuat di Time, Sunday Telegraph, De Standaar, Stern dan
lainnya. Taufan juga berbagi pengalamannya mengerjakan proyek panjang photo
story tentang cerita kanker pada perempuan di Indonesia. Mulai dari riset
tentang penyakit itu, menemukan pasien dan penyintas kanker, meyakinkan mereka
untuk difoto, sampai mencari sponsor ketika proyek tersebut rampung untuk
membiayai cetak foto dan menyelengarakan pameran agar bisa diakses banyak
orang.
Kekayaan isi Photo Story Handbook layak dibaca oleh
para penggemar fotografi atau para fotografer. Dengan membaca buku ini, wawasan
tentang photo story termungkinkan lebih terbuka lebar ―utamanya berkaitan cara
mengerjakan proyek photo story. Di lain sisi, buku ini juga buah kegelisahan
Taufan Wijaya mengingat belum adanya buku pegangan (handbook) photo story yang ditulis dengan bahasa Indonesia. Taufan
telah mengisi kekosongan itu untuk para pecinta fotografi di Indonesia.
Keren. Panutan.
BalasHapusHow To Bet at Foxwoods Casino & Hotel | MapYRO
BalasHapusFoxwoods Casino & Hotel 광명 출장샵 is located in the 원주 출장샵 heart of scenic southeastern Michigan and boasts a casino, 과천 출장마사지 luxury hotel, 충청북도 출장안마 casino, entertainment, 여수 출장샵