I
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Panggil
dia Pak Mustakim saja. Ia berprofresi sebagai guru Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah
Umum Shalahuddin, kota Malang. Ketika
saya tiga tahun menjadi siswa di sekolah swasta itu, dia selalu mengenakan peci
hitam yang seakan menegaskan bahwa waktu ia dilahirkan tidak punya jarak
kelewat panjang dengan masa ketika peci ditandakan Soekarno sebagai simbol
Nasionalisme bagi laki-laki Indonesia.
Setiap
awal bulan, pada minggu kedua, dengan langkah yang kecil-kecil, Pak Mustakim akan
memasuki kelas sembari menenteng majalah sastra Horison di luar tas jinjingnya. Nantinya, majalah sastra Horison, yang selalu bersampul depan
sebuah lukisan dan terbit setiap bulan itu, akan selalu mematri kenangan
tentang seorang guru yang memberi jam belajar penuh khayalan.
Ketika
berada dalam kelas, mula-mula Pak Mustakim akan mendeklamasikan salah satu
puisi yang termuat di dalam majalah sastra Horison.
Setahap demi setahap ia akan menerangkan beberapa majas yang terkandung di
dalam puisi, juga terkadang melempar pertanyaan yang menjadi semacam kuis
berhadiah senyuman. Tiga sampai empat menit, ia akan memuji-memuji kepiawaian
perambahan pengucapan si penyair sebelum mengambil empat kapur yang secara
pasti akan ia genggam di tangan kiri, sedang tangan kanannya akan mulai sibuk
menulis angka tahun, nama-nama, judul-judul buku yang nantinya akan ia beri
judul “Periodesasi Angkatan Sastra”.
Setelah
ia menjelaskan dengan keseriusan lebih dari tiga puluh menit —yang membuat
suasana kelas menjadi sunyi— bahwa Marah Rusli digolongkan sebagai angkatan
Balai Pustaka, Sutan Takdir Alisjahbana digolongkan sebagai Angkatan Pujangga Baru,
Chairil Anwar digolongkan sebagai Angkatan 45 dan sebagainya. Selang satu
menit, ia akan mengamati dengan cara mengitari kami bahwa tulisannya di papan
telah kami salin di buku tulis.
Ia pun
akan memberikan tugas agar kami meluangkan waktu untuk membaca buku-buku sastra
yang ditulis oleh sastrawan dalam golongan angkatan tertentu, menulis resensi
atau ringkasan yang cara-caranya bisa kami pelajari di buku pengantar kemahiran
bahasa berjudul Komposisi yang
ditulis oleh Gorys Keraf, memberi waktu satu bulan untuk dikumpulkan. Tak lupa
ia akan merekomendasikan pada para siswa-siswinya untuk membaca majalah sastra Horison yang tersimpan di rak majalah
perpustakaan. Dan ia, dengan langkah-langkah yang kecil akan meninggalkan ruangan
kelas, seakan yakin bahwa kami tidak mengalami hambatan menulis resensi.
Mungkin guru bahasa
Indonesia itu tahu, pendidikan di Indonesia yang selama ini lebih mengutamakan
ukuran sumber daya manusianya pada pertimbangan Logical Mathenatical Intellegence telah mengucilkan perkembangan
kemampuan anak-anak yang cenderung berkemampuan Linguistic Intellegence. Amati saja kelas Bahasa, secara
kuantitatif hanya dihuni tidak lebih dari 30 orang —sebab hanya disediakan satu
kelas— dan tak jarang pula beberapa sekolah tak membangun ruang yang diniatkan
sebagai kelas Bahasa. Maka, tak mengherankan bila guru-guru Bahasa Indonesia
semacam Pak Mustakim berupaya melakukan pendongkrakan kualitatif kemampuan
siswa dengan membiasakan pada anak didiknya untuk giat membaca, mengolah
pikiran dan menulis sebagai bagian aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, perpustakaan
sekolah yang seharusnya dapat dioptimalkan sebagai ruang membaca siswa masih minim
mengoleksi buku-buku sastra. Bila kemudian buku kurikulum pelajaran bahasa Indonesia
di SMU dijadikan rujukan utama, buku itu hanya berisi sisipan-sisipan karya
sastra dari segelintir sastrawan. Dari kenyataan itulah, lalu saya menduga
bahwa Majalah Horison yang kini telah
berusia 44 tahun (1966-2010) dan disebar secara gratis ke SMU, Madrasah Aliyah,
Pesantren dan SMK seluruh Indonesia —lalu saya ketahui memainkan peran ganda,
yaitu: 1). Sebagai wahana pengembangan sastra Indonesia, peran dan tugas yang
diemban Horison sejak didirikannya. 2). Sebagai wahana pendidikan tingkat
menengah, khususnya di bidang sastra dan dunia baca-tulis secara umum[1]— difungsikan
oleh Pak Mustakim sebagai alternatif untuk memperkenalkan karya-karya sastra
selain yang dapat dikonsumsi sebagai fasilitas sekolah dan sekaligus menjadi media
yang memuat kepentingannya melakukan pendongkarakan kualitatif kemampuan siswa
dalam mengembangkan Linguistic
Intellegence.
Membaca sisipan Kakilangit dalam majalah sastra Horison semisal, idealnya siswa lalu
mengetahui beberapa riwayat hidup dan karya sastra sastrawan yang tidak masuk
dalam kurikulum buku pelajaran bahasa Indonesia di SMU, terinspirasi oleh proses
kreatif sastrawan dalam melahirkan karya sastra atau dapat mempelajari tekhnik
menulis mereka dengan cara mencermati ulasan-ulasan terhadap karyanya.
Selama beberapa
tahun, kemungkinan harapan ideal semacam itu tidak terlaksana pada saya. Saya,
membaca majalah sastra Horison lebih dengan
kepentingan anak muda yang sering dilanda cinta monyet. Menaruh percaya bahwa
sastra —terutama puisi— seringkali dapat mempermudah kepentingan saya untuk mengatakan
pernyataan perasaan yang sulit diungkapkan.
Berawal dari kepentingan membaca sastra
semacam itulah, dari usia 17 sampai 22 tahun, saya akan memilih, memilah dan
menyalin puisi-puisi yang saya anggap romantis; menjadi pelamun parah bahwa pada
suatu saat saya akan menyelipkan salinan itu diantara rangkaian bunga mawar
atau hanya mengurung diri di kamar, menderita bersama mawar kering karena
tusukan cinta tak terbalas. Saya juga akan membayangkan bahwa suatu saat
gadis-gadis berperasaan akan terpesona dengan cara saya mengungkapkan cinta, dan
gadis-gadis tak berperasaan suatu saat akan kecewa dan datang menghiba cinta. Di
saat itulah Chairil Anwar dengan puisinya yang berjudul “Penerimaan”[2] (ditulis
bulan Maret tahun 1943) seakan memberi ilham tentang apa yang akan saya perbuat
jika lamunan itu menjadi kenyataan, lalu terlepaslah saya dari perkabungan hati
ketika menyalin larik-larik ini:
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku Sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Puisi-puisilah
yang saya kira mampu memahami hasrat narsistik maupun bayangan tragik lamunan
saya. Dipimpin Chairil Anwar, nama-nama penyair semacam W.S. Rendra, Sapardi
Djoko Damono, Soni Farid Maulana, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi W.M tertera menjadi
rombongan besar yang puisinya berpindah dari majalah, buku antologi puisi, menuju
catatan-catatan perasaan paling pribadi. Sejak kebiasaan ini menjadi
kesenangan, selama beberapa tahun, saya telah merasa menjadi ahli dalam
menggolongkan puisi mana yang paling cocok untuk ditujukan demi kepentingan
merayu, mengutarakan cinta, kerinduan yang akut, sampai patah hati. Dari metode
pengajaran pak Mustakim yang mendekatkan ditri saya pada puisi, seperti bait
pertama puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul “Kata”[3]
yang saya kutip di atas, saya menaruh percaya bahwa apa pun yang dirasakan
manusia, sejauh yang dapat diekspresikan, hanya dapat diekspresikan dengan
kata.
[1] Peran ganda majalah sastra Horison, saya baca di sampul belakang
horison 44 tahun 1966-2010 edisi
September 2010.
[2]
Puisi-puisi Chairil Anwar
yang dikutip dalam esai ini, seluruhnya bersumber pada buku Chairil Anwar yang
bertajuk Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942-1949 (ed. Pamusuk Eneste. Cet. 21. Juni 2009)
[3]
Subagio Sastrowardoyo, “Kata”, dalam Daerah Perbatasan (Balai Pustaka. Cet.2. 1982, hlm. 61)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar