Minggu, 22 April 2012

Pak Mustakim sebagai Tokoh, Chairil Anwar sebagai Contoh


I
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Panggil dia Pak Mustakim saja. Ia berprofresi sebagai guru Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Umum Shalahuddin, kota Malang. Ketika saya tiga tahun menjadi siswa di sekolah swasta itu, dia selalu mengenakan peci hitam yang seakan menegaskan bahwa waktu ia dilahirkan tidak punya jarak kelewat panjang dengan masa ketika peci ditandakan Soekarno sebagai simbol Nasionalisme bagi laki-laki Indonesia. 
Setiap awal bulan, pada minggu kedua, dengan langkah yang kecil-kecil, Pak Mustakim akan memasuki kelas sembari menenteng majalah sastra Horison di luar tas jinjingnya. Nantinya, majalah sastra Horison, yang selalu bersampul depan sebuah lukisan dan terbit setiap bulan itu, akan selalu mematri kenangan tentang seorang guru yang memberi jam belajar penuh khayalan. 
Ketika berada dalam kelas, mula-mula Pak Mustakim akan mendeklamasikan salah satu puisi yang termuat di dalam majalah sastra Horison. Setahap demi setahap ia akan menerangkan beberapa majas yang terkandung di dalam puisi, juga terkadang melempar pertanyaan yang menjadi semacam kuis berhadiah senyuman. Tiga sampai empat menit, ia akan memuji-memuji kepiawaian perambahan pengucapan si penyair sebelum mengambil empat kapur yang secara pasti akan ia genggam di tangan kiri, sedang tangan kanannya akan mulai sibuk menulis angka tahun, nama-nama, judul-judul buku yang nantinya akan ia beri judul “Periodesasi Angkatan Sastra”.
Setelah ia menjelaskan dengan keseriusan lebih dari tiga puluh menit —yang membuat suasana kelas menjadi sunyi— bahwa Marah Rusli digolongkan sebagai angkatan Balai Pustaka, Sutan Takdir Alisjahbana digolongkan sebagai Angkatan Pujangga Baru, Chairil Anwar digolongkan sebagai Angkatan 45 dan sebagainya. Selang satu menit, ia akan mengamati dengan cara mengitari kami bahwa tulisannya di papan telah kami salin di buku tulis.
Ia pun akan memberikan tugas agar kami meluangkan waktu untuk membaca buku-buku sastra yang ditulis oleh sastrawan dalam golongan angkatan tertentu, menulis resensi atau ringkasan yang cara-caranya bisa kami pelajari di buku pengantar kemahiran bahasa berjudul Komposisi yang ditulis oleh Gorys Keraf, memberi waktu satu bulan untuk dikumpulkan. Tak lupa ia akan merekomendasikan pada para siswa-siswinya untuk membaca majalah sastra Horison yang tersimpan di rak majalah perpustakaan. Dan ia, dengan langkah-langkah yang kecil akan meninggalkan ruangan kelas, seakan yakin bahwa kami tidak mengalami hambatan menulis resensi.
Mungkin guru bahasa Indonesia itu tahu, pendidikan di Indonesia yang selama ini lebih mengutamakan ukuran sumber daya manusianya pada pertimbangan Logical Mathenatical Intellegence telah mengucilkan perkembangan kemampuan anak-anak yang cenderung berkemampuan Linguistic Intellegence. Amati saja kelas Bahasa, secara kuantitatif hanya dihuni tidak lebih dari 30 orang —sebab hanya disediakan satu kelas— dan tak jarang pula beberapa sekolah tak membangun ruang yang diniatkan sebagai kelas Bahasa. Maka, tak mengherankan bila guru-guru Bahasa Indonesia semacam Pak Mustakim berupaya melakukan pendongkrakan kualitatif kemampuan siswa dengan membiasakan pada anak didiknya untuk giat membaca, mengolah pikiran dan menulis sebagai bagian aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, perpustakaan sekolah yang seharusnya dapat dioptimalkan sebagai ruang membaca siswa masih minim mengoleksi buku-buku sastra. Bila kemudian buku kurikulum pelajaran bahasa Indonesia di SMU dijadikan rujukan utama, buku itu hanya berisi sisipan-sisipan karya sastra dari segelintir sastrawan. Dari kenyataan itulah, lalu saya menduga bahwa Majalah Horison yang kini telah berusia 44 tahun (1966-2010) dan disebar secara gratis ke SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren dan SMK seluruh Indonesia —lalu saya ketahui memainkan peran ganda, yaitu: 1). Sebagai wahana pengembangan sastra Indonesia, peran dan tugas yang diemban Horison sejak didirikannya. 2). Sebagai wahana pendidikan tingkat menengah, khususnya di bidang sastra dan dunia baca-tulis secara umum[1]— difungsikan oleh Pak Mustakim sebagai alternatif untuk memperkenalkan karya-karya sastra selain yang dapat dikonsumsi sebagai fasilitas sekolah dan sekaligus menjadi media yang memuat kepentingannya melakukan pendongkarakan kualitatif kemampuan siswa dalam mengembangkan Linguistic Intellegence.
Membaca sisipan Kakilangit dalam majalah sastra Horison semisal, idealnya siswa lalu mengetahui beberapa riwayat hidup dan karya sastra sastrawan yang tidak masuk dalam kurikulum buku pelajaran bahasa Indonesia di SMU, terinspirasi oleh proses kreatif sastrawan dalam melahirkan karya sastra atau dapat mempelajari tekhnik menulis mereka dengan cara mencermati ulasan-ulasan terhadap karyanya.
Selama beberapa tahun, kemungkinan harapan ideal semacam itu tidak terlaksana pada saya. Saya, membaca majalah sastra Horison lebih dengan kepentingan anak muda yang sering dilanda cinta monyet. Menaruh percaya bahwa sastra —terutama puisi— seringkali dapat mempermudah kepentingan saya untuk mengatakan pernyataan perasaan yang sulit diungkapkan.
 Berawal dari kepentingan membaca sastra semacam itulah, dari usia 17 sampai 22 tahun, saya akan memilih, memilah dan menyalin puisi-puisi yang saya anggap romantis; menjadi pelamun parah bahwa pada suatu saat saya akan menyelipkan salinan itu diantara rangkaian bunga mawar atau hanya mengurung diri di kamar, menderita bersama mawar kering karena tusukan cinta tak terbalas. Saya juga akan membayangkan bahwa suatu saat gadis-gadis berperasaan akan terpesona dengan cara saya mengungkapkan cinta, dan gadis-gadis tak berperasaan suatu saat akan kecewa dan datang menghiba cinta. Di saat itulah Chairil Anwar dengan puisinya yang berjudul “Penerimaan”[2] (ditulis bulan Maret tahun 1943) seakan memberi ilham tentang apa yang akan saya perbuat jika lamunan itu menjadi kenyataan, lalu terlepaslah saya dari perkabungan hati ketika menyalin larik-larik ini:

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku Sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Puisi-puisilah yang saya kira mampu memahami hasrat narsistik maupun bayangan tragik lamunan saya. Dipimpin Chairil Anwar, nama-nama penyair semacam W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Soni Farid Maulana, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi W.M tertera menjadi rombongan besar yang puisinya berpindah dari majalah, buku antologi puisi, menuju catatan-catatan perasaan paling pribadi. Sejak kebiasaan ini menjadi kesenangan, selama beberapa tahun, saya telah merasa menjadi ahli dalam menggolongkan puisi mana yang paling cocok untuk ditujukan demi kepentingan merayu, mengutarakan cinta, kerinduan yang akut, sampai patah hati. Dari metode pengajaran pak Mustakim yang mendekatkan ditri saya pada puisi, seperti bait pertama puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul “Kata”[3] yang saya kutip di atas, saya menaruh percaya bahwa apa pun yang dirasakan manusia, sejauh yang dapat diekspresikan, hanya dapat diekspresikan dengan kata. 


[1] Peran ganda majalah sastra Horison, saya baca di sampul belakang horison 44 tahun 1966-2010  edisi September 2010.
[2] Puisi-puisi Chairil Anwar yang dikutip dalam esai ini, seluruhnya bersumber pada buku Chairil Anwar yang bertajuk Aku Ini Binatang  Jalang, Koleksi sajak 1942-1949 (ed. Pamusuk Eneste. Cet. 21. Juni 2009)
[3]  Subagio Sastrowardoyo, “Kata”, dalam Daerah Perbatasan  (Balai Pustaka. Cet.2. 1982, hlm. 61)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar