Jumat, 27 November 2015

Menimbang Transformasi dan Eksistensi Sastra Banyumas


Kedaulatan Rakyat. Minggu, 8 November 2015


Prosa perlu tokoh, juga puisi memerlukan aku atau kau lirik. Dengan pengantar ringkas sekalimat itu saya ingin menanggapi tulisan oleh Ag Andoyo Sulyantoro, "Transformasi dan Eksistensi Sastra Banyumas" (KR. 25/10). Catatan budaya itu menyebut puluhan sastrawan, termasuk ia sendiri, yang lahir atau berproses kreatif di Banyumas sejak tahun 80-an sampai generasi terkini sebagai fokus. Nada dan isinya optimis: eksistensi para penulis dengan karya sastranya yang mengangkat Banyumas telah memberi kontribusi positif dan penting bagi perkembangan sastra Indonesia.

Tapi perkenanlah saya berbeda: saya tak ingin menonjolkan penulis sebagai tokoh, baik itu Ahmad Tohari yang tinggal di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang atau Ag Andoyo Sulyantoro yang lahir di Purbalingga. Tetapi yang sentral dalam transformasi dan eksistensi sastra Banyumas, bagi saya adalah karya sastra yang berhasil menghubungkan berbagai penulis di Banyumas, untuk saling menginspirasi —ditiru atau sebaliknya digugat rubuhkan― sebagai tradisi kepengarangan yang melintasi jarak usia, tempat tinggal, latar pendidikan juga komunitas.
Kalau saya tak salah dalam menilai tulisan Ag Andoyo Sulyantoro, ia sekadar asyik mengabsensi penulis dan seakan melakukan pengukuhan padahal memori manusia berkapasitas sangat terbatas. Perlu dikoreksi semisal, Sri Wintala Achmad diabsensi bagian dari sastra Banyumas tahun 80-an, padahal Wintala yang kelahiran Sleman, saat itu berproses kreatif di Yogyakarta dan baru tinggal di Cilacap tahun 2009 lalu. Andoyo pun lupa bahwa transformasi sastra, di satu sisi, merupakan sebuah dunia kutipan yang tak bisa melepaskan diri dari jerat intertekstualitas. Sedang di lain sisi, eksistensi sastra dalam sejarah menyeruak ketika terdapat inovasi bentuk dan isi atas karya-karya dari pengarang sebelumnya.
Banyumas sebagai prosa
Menjadikan Banyumas sebagai latar perbincangan, di lingkup prosa, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) adalah jerat interteks yang paling gemar diresepsi oleh penulis Banyumas untuk bertumpu pada lokalitas. Jejak itu misalnya, lima tahun terakhir ini, dapat kita temui secara mudah dalam buku antologi cerita pendek bertajuk Balada Seorang Lengger (LeutikaPrio, 2011). Sehimpun cerita dari berbagai penulis ini, mayoritas hendak berkisah tentang kearifan lokal Banyumas dalam strategi bercerita realis semisal pada cerpen “Balada Seorang Lengger” atau “Kerling Sang Penari Lengger”. Tetapi sayangnya, teks-teks itu sekadar meniru secara mekanis strategi tekstual realis RDP, sehingga gagal membawa wacana baru.
Padahal, menengok novel Ronggeng Dukuh Paruk, eksistensinya mengemuka bukan karena penggambaran alam Dukuh Paruk yang disampaikan detail dan khas ala Dataran Tortilla  karya John Steinbeck. Tetapi sebagai teks sastra, novel yang terbit tahun 1981 itu menyumbangkan karya yang kuat bagi bangunan keindonesiaan. Salah satunya, konflik politik tahun 1965 dari sudut pandang masyarakat pedalaman Banyumas yang jauh dari pemerintah pusat.
Menimbang Banyumas sebagai latar prosa, karya sastra yang membangun strategi teks di luar RDP, dan membawa nafas baru adalah novel Jatisaba (2011) karya Ramayda Akmal. Novel ini secara tekstual ditelaah oleh Heddy Sri Ahimsa Putra (baca “Wong Dulbur-Wong Legok-Wong Tiban: Struktur Nirsadar Novel ‘Jatisaba’”—makalah tidak diterbitkan. 2011) memiliki struktur narasi yang tersembunyi yang berawal dari oposisi-oposisi berpasangan. Sedang kisahnya, menunjukkan kebobrokan suatu latar agraria di Cilacap. 
Dalam novel itu, masyarakat desa dikisahkan mengalami transformasi budaya karena tak lagi menjadikan tanah sebagai sumber ekonomi sekaligus personifikasi transenden. Pasalnya, tanah desa dianggap tak pernah berubah, mekanisme hidup lebih digerakkan oleh alam yang tak menentu, sedang di kota dan negeri seberang, televisi memberitakan alat-alat industri yang meraung seakan sebagai panggilan kepastian ekonomi. Migrasi pun lantas dipandang orang desa sebagai solusi dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI); walau nasib yang ditempuh kelak bernama duka, bahkan mengancam nyawa .
Banyumas sebagai puisi
Melompat ke puisi di Banyumas, banyak penyair di Banyumas yang menulis di media cetak atau antologi bersama maupun tunggal merupakan turunan langsung dari tradisi perpuisian Indonesia yang telah mapan. Sulit rasanya, saya meraba apakah puisi-puisi Dharmadi atau Ahita Teguh Susilo mempengaruhi penyair terkini yang disebut Andoyo semisal Arif Hidayat atau Sigit Emwe. Tapi sebaliknya, antara puisi Ahita di tahun 1980-an dan Emwe di tahun 2000-an, sangat mudah menilai jika mereka merupakan turunan puisi Sapardi Djoko Damono.
Namun di antara yang banyak itu, ada Badruddin Emce sebagai “pembeda utama“ yang mengeksplorasi dalam “bahasa ibu“ untuk menghadirkan puisi-puisi unik. Membaca Binatang Suci Teluk Penyu (2007) semisal, ia menghadirkan “situs” budaya dan mitos di Cilacap dan kekuatan bahasa “Banyumasan” untuk menghadirkan puisi modern. Tetapi memang tak perlu bersorak girang, karena strategi teks ini bisa ditemui pada puisi-puisi Darmanto Jatman pada era 70-an yang dipenuhi frasa berbahasa Jawa.
 Justru yang menarik, kehidupan puisi di Banyumas, adalah komunikasi yang guyub antara Purwokerto, Cilacap dan Purbalingga baik berupa gesekan wacana antar individu atau dalam komunitas. Dari gesekan inilah semisal, Komunitas Penyair Institut (KPI) yang berlatar belakang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bertukar pikiran tentang sastra dengan Tjlajapan Poetry Forum (TPF) tanpa jarak perbedaan baik usia maupun ruang tinggal. Dari komunitas pulalah, puisi saling mendapat tempat untuk dimaknai dalam bentuk acara sastra, penerbitan bulletin swadaya atau antologi bersama.
Setidak-tidaknya, saya mengakui ingar-bingar penulisan sastra dan jaringan sastra di Banyumas memang selalu melangkah ke tahap yang lebih segar. Tetapi, terkait saling strategi tekstual antar penulis di Banyumas apalagi sumbangan penting bagi perkembangan kesusastraan Indonesia perlu diselidiki lebih jauh bukan asal pengukuhan dan klaim. Penulis-penulis di Banyumas, saya kira memang akan terus bermunculan dan normal bila sebagian hilang untuk dilupakan. Tapi esksistensi karya sastra yang otentik pasti akan selalu tercatat dalam sejarah dan memberi sumbangsih pada masa depan, dengan gemilang, tersendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar