Kedaulatan Rakyat. Minggu, 8 November 2015
Prosa
perlu tokoh, juga puisi memerlukan aku atau kau lirik. Dengan pengantar ringkas
sekalimat itu saya ingin menanggapi tulisan oleh Ag Andoyo Sulyantoro,
"Transformasi dan Eksistensi Sastra Banyumas" (KR. 25/10). Catatan budaya itu menyebut puluhan sastrawan, termasuk
ia sendiri, yang lahir atau berproses kreatif di Banyumas sejak tahun 80-an
sampai generasi terkini sebagai fokus. Nada dan isinya optimis: eksistensi para
penulis dengan karya sastranya yang mengangkat Banyumas telah memberi
kontribusi positif dan penting bagi perkembangan sastra Indonesia. Tapi perkenanlah saya berbeda: saya tak ingin menonjolkan penulis sebagai tokoh, baik itu Ahmad Tohari yang tinggal di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang atau Ag Andoyo Sulyantoro yang lahir di Purbalingga. Tetapi yang sentral dalam transformasi dan eksistensi sastra Banyumas, bagi saya adalah karya sastra yang berhasil menghubungkan berbagai penulis di Banyumas, untuk saling menginspirasi —ditiru atau sebaliknya digugat rubuhkan― sebagai tradisi kepengarangan yang melintasi jarak usia, tempat tinggal, latar pendidikan juga komunitas.
Kalau
saya tak salah dalam menilai tulisan Ag Andoyo Sulyantoro, ia sekadar asyik
mengabsensi penulis dan seakan melakukan pengukuhan padahal memori manusia
berkapasitas sangat terbatas. Perlu dikoreksi semisal, Sri Wintala Achmad
diabsensi bagian dari sastra Banyumas tahun 80-an, padahal
Wintala yang kelahiran Sleman, saat itu berproses kreatif di Yogyakarta dan
baru tinggal di Cilacap tahun 2009 lalu. Andoyo pun lupa bahwa
transformasi sastra, di satu sisi, merupakan sebuah dunia kutipan yang tak bisa
melepaskan diri dari jerat intertekstualitas. Sedang di lain sisi, eksistensi
sastra dalam sejarah menyeruak ketika terdapat inovasi bentuk dan isi atas
karya-karya dari pengarang sebelumnya.
Banyumas sebagai prosa
Menjadikan
Banyumas sebagai latar perbincangan, di lingkup prosa, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) adalah jerat
interteks yang paling gemar diresepsi oleh penulis Banyumas untuk bertumpu pada
lokalitas. Jejak itu misalnya, lima tahun terakhir ini, dapat kita temui secara
mudah dalam buku antologi cerita pendek bertajuk Balada Seorang Lengger (LeutikaPrio, 2011). Sehimpun cerita dari
berbagai penulis ini, mayoritas hendak berkisah tentang kearifan lokal Banyumas
dalam strategi bercerita realis semisal pada cerpen “Balada Seorang Lengger”
atau “Kerling Sang Penari Lengger”. Tetapi sayangnya, teks-teks itu sekadar meniru
secara mekanis strategi tekstual realis RDP, sehingga gagal membawa wacana
baru.
Padahal,
menengok novel Ronggeng Dukuh Paruk,
eksistensinya mengemuka bukan karena penggambaran alam Dukuh Paruk yang disampaikan
detail dan khas ala Dataran Tortilla karya John Steinbeck. Tetapi sebagai teks
sastra, novel yang terbit tahun 1981 itu menyumbangkan karya yang kuat bagi
bangunan keindonesiaan. Salah satunya, konflik politik tahun 1965 dari sudut
pandang masyarakat pedalaman Banyumas yang jauh dari pemerintah pusat.
Menimbang
Banyumas sebagai latar prosa, karya sastra yang membangun strategi teks di luar
RDP, dan membawa nafas baru adalah novel Jatisaba
(2011) karya Ramayda Akmal. Novel ini secara tekstual ditelaah oleh Heddy Sri
Ahimsa Putra (baca “Wong Dulbur-Wong Legok-Wong Tiban: Struktur Nirsadar Novel
‘Jatisaba’”—makalah tidak diterbitkan.
2011) memiliki struktur narasi yang tersembunyi yang berawal dari
oposisi-oposisi berpasangan. Sedang kisahnya, menunjukkan kebobrokan suatu
latar agraria di Cilacap.
Dalam
novel itu, masyarakat desa dikisahkan mengalami transformasi budaya karena tak
lagi menjadikan tanah sebagai sumber ekonomi sekaligus personifikasi
transenden. Pasalnya, tanah desa dianggap tak pernah berubah, mekanisme hidup
lebih digerakkan oleh alam yang tak menentu, sedang di kota dan negeri
seberang, televisi memberitakan alat-alat industri yang meraung seakan sebagai
panggilan kepastian ekonomi. Migrasi pun lantas dipandang orang desa sebagai
solusi dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI); walau nasib
yang ditempuh kelak bernama duka, bahkan mengancam nyawa .
Banyumas sebagai puisi
Melompat
ke puisi di Banyumas, banyak penyair di Banyumas yang menulis di media cetak
atau antologi bersama maupun tunggal merupakan turunan langsung dari tradisi
perpuisian Indonesia yang telah mapan. Sulit rasanya, saya meraba apakah
puisi-puisi Dharmadi atau Ahita Teguh Susilo mempengaruhi penyair terkini yang
disebut Andoyo semisal Arif Hidayat atau Sigit Emwe. Tapi sebaliknya, antara puisi
Ahita di tahun 1980-an dan Emwe di tahun 2000-an, sangat mudah menilai jika
mereka merupakan turunan puisi Sapardi Djoko Damono.
Namun
di antara yang banyak itu, ada Badruddin Emce sebagai “pembeda utama“ yang
mengeksplorasi dalam “bahasa ibu“ untuk menghadirkan puisi-puisi unik. Membaca Binatang Suci Teluk Penyu (2007)
semisal, ia menghadirkan “situs” budaya dan mitos di Cilacap dan kekuatan
bahasa “Banyumasan” untuk menghadirkan puisi modern. Tetapi memang tak perlu
bersorak girang, karena strategi teks ini bisa ditemui pada puisi-puisi
Darmanto Jatman pada era 70-an yang dipenuhi frasa berbahasa Jawa.
Justru yang menarik, kehidupan puisi di Banyumas, adalah komunikasi yang guyub antara Purwokerto, Cilacap dan Purbalingga baik berupa gesekan wacana antar individu atau dalam komunitas. Dari gesekan inilah semisal, Komunitas Penyair Institut (KPI) yang berlatar belakang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bertukar pikiran tentang sastra dengan Tjlajapan Poetry Forum (TPF) tanpa jarak perbedaan baik usia maupun ruang tinggal. Dari komunitas pulalah, puisi saling mendapat tempat untuk dimaknai dalam bentuk acara sastra, penerbitan bulletin swadaya atau antologi bersama.
Justru yang menarik, kehidupan puisi di Banyumas, adalah komunikasi yang guyub antara Purwokerto, Cilacap dan Purbalingga baik berupa gesekan wacana antar individu atau dalam komunitas. Dari gesekan inilah semisal, Komunitas Penyair Institut (KPI) yang berlatar belakang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bertukar pikiran tentang sastra dengan Tjlajapan Poetry Forum (TPF) tanpa jarak perbedaan baik usia maupun ruang tinggal. Dari komunitas pulalah, puisi saling mendapat tempat untuk dimaknai dalam bentuk acara sastra, penerbitan bulletin swadaya atau antologi bersama.
Setidak-tidaknya,
saya mengakui ingar-bingar penulisan sastra dan jaringan sastra di Banyumas memang
selalu melangkah ke tahap yang lebih segar. Tetapi, terkait saling strategi
tekstual antar penulis di Banyumas apalagi sumbangan penting bagi perkembangan
kesusastraan Indonesia perlu diselidiki lebih jauh bukan asal pengukuhan dan
klaim. Penulis-penulis di Banyumas, saya kira memang akan terus bermunculan dan
normal bila sebagian hilang untuk dilupakan. Tapi esksistensi karya sastra yang
otentik pasti akan selalu tercatat dalam sejarah dan memberi sumbangsih pada
masa depan, dengan gemilang, tersendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar